SIAK- Dampak perubahan iklim seperti ketidakpastian cuaca hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi tantangan berat di tingkat desa. Merespons hal tersebut, aksi nyata kolaboratif digelar di Kabupaten Siak untuk membangun ketangguhan masyarakat dari tingkat tapak.
Sejumlah pemangku kepentingan turun langsung menggelar kegiatan penguatan Program Kampung Iklim (ProKlim) di Desa Kuala Gasib, Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak. Kegiatan yang telah diinisiasi sejak akhir Mei 2026 ini melibatkan sinergi kuat antara Pemerintah Desa Kuala Gasib, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Siak, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta Tim Sustainability perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Kimia Tirta Utama (PT KTU).
Melalui kegiatan ini, masyarakat digandeng langsung dalam berbagai aksi adaptasi dan mitigasi berbasis komunitas. Mulai dari penanaman pohon secara masif, edukasi pengelolaan sampah, hingga penguatan kelembagaan desa guna menghadapi fenomena iklim seperti El Nino.
Keberhasilan program penyelamatan lingkungan ini mendapat apresiasi positif dari Pemerintah Kabupaten Siak. Pendekatan kolaboratif dinilai menjadi modal utama dalam membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat pedesaan.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Bidang Perubahan Iklim, Pengelolaan Limbah Padat Domestik dan Peningkatan Kapasitas DLH Siak, Muhammad Fuad menegaskan ProKlim tidak akan berjalan optimal tanpa adanya komitmen bersama.
“Kami melihat langsung berbagai aksi yang telah dilakukan perusahaan, Pemda dan masyarakat di Kuala Gasib. Sinergi seluruh pihak menjadi kunci dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan, sehingga masyarakat semakin siap menghadapi dampak perubahan iklim,” ungkap Fuad, Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, aksi konkret seperti penghijauan dan manajemen sampah di tingkat desa merupakan bagian dari program nasional untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Aksi itu harus terus didukung.
Sementara itu, pihak manajemen PT Kimia Tirta Utama (PT KTU) menegaskan korporasi berkomitmen penuh untuk hadir di tengah masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar wilayah operasional.
Administratur PT KTU, Teddy Yohendra Siregar menyebut tantangan iklim global saat ini terlalu besar jika hanya dihadapi oleh satu pihak saja. Hubungan tiga pilar antara pemerintah, swasta, dan masyarakat adalah pondasi mutlak.
Teddy berharap, melalui penguatan ProKlim ini, upaya mitigasi bencana dan iklim dapat terintegrasi dengan pembangunan daerah secara jangka panjang.
“Fokus kami tidak hanya pada perlindungan lingkungan, tetapi juga memastikan adanya peningkatan pendapatan masyarakat melalui pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan. Salah satunya melalui pembinaan Masyarakat Peduli Api (MPA), serta berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan perusahaan,” kata Teddy.
Kegiatan ini sekaligus mempertegas komitmen PT KTU dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang berkelanjutan. Di bawah semangat Sinergi Bumi dan Manusia untuk Satu Indonesia, PT KTU meyakini kelestarian alam di Negeri Istana harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat demi generasi mendatang.

Sumber: Tribunpekanbaru.com
Penafian
Artikel ini mungkin berisi materi berhak cipta, yang penggunaannya mungkin tidak diizinkan oleh pemilik hak cipta. Materi ini disediakan dengan tujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan. Materi yang terdapat dalam situs web Astra Agro didistribusikan tanpa mencari keuntungan. Jika Anda tertarik untuk menggunakan materi yang memiliki hak cipta dari materi ini dengan alasan apapun yang melampaui ‘penggunaan wajar’, Anda harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari sumber aslinya.










