Di tengah semakin nyata dampak perubahan iklim, dunia usaha dituntut tidak hanya mampu menghasilkan produk yang dibutuhkan masyarakat, tetapi juga menghadirkan solusi bagi lingkungan. Bagi Astra Agro menjawab tantangan tersebut selain sebagai pemenuhan target pengurangan emisi, juga untuk membangun cara baru dalam menjalankan industri kelapa sawit yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Salah satu langkah nyata yang senantiasa dikembangkan perusahaan adalah penerapan teknologi methane capture, sebuah inovasi yang mengubah hasil pengolahan dalam bentuk cair pabrik kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent atau POME) menjadi energi terbarukan. Teknologi ini menangkap gas metana—salah satu gas rumah kaca dengan potensi pemanasan global agar tidak terlepas ke atmosfer. Sebaliknya, gas tersebut dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi untuk mendukung operasional pabrik.
Tahukah Anda, sisa pengolahan Sawit ternyata Bisa Menjadi Energi Bersih?
Ketika mendengar kata sisa pengolahan atau kerap dikenal limbah, sebagian besar orang mungkin membayangkan sesuatu yang harus dibuang. Padahal, di industri kelapa sawit, limbah justru menyimpan potensi besar untuk membantu mengurangi perubahan iklim. Salah satunya adalah melalui teknologi methane capture.
Apa itu gas metana?
Gas metana (CH₄) adalah salah satu jenis gas rumah kaca yang berperan dalam meningkatkan suhu bumi. Meski jumlahnya di atmosfer lebih sedikit dibandingkan karbon dioksida (CO₂), kemampuan metana dalam memerangkap panas jauh lebih besar.
Menurut United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), gas metana memiliki potensi pemanasan global sekitar 21 kali lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida dalam periode pengukuran yang digunakan saat itu. Dengan kata lain, ketika metana dilepaskan ke atmosfer tanpa dikelola, dampaknya terhadap perubahan iklim jauh lebih besar dibandingkan emisi CO₂ dalam jumlah yang sama.
Metana berasal dari berbagai sumber. Sekitar 40 persen terbentuk secara alami, misalnya dari lahan basah. Namun saat ini, sebagian besar emisi metana berasal dari aktivitas manusia, seperti peternakan, pertanian, tempat pembuangan sampah, hingga proses pengolahan limbah di berbagai industri, termasuk industri kelapa sawit.
Mengapa limbah sawit menghasilkan metana?
Dalam proses produksi minyak sawit, pabrik menghasilkan limbah cair yang dikenal sebagai Palm Oil Mill Effluent (POME).
POME sebenarnya bukan limbah berbahaya. Limbah ini berasal dari sisa air proses pengolahan buah sawit yang masih mengandung bahan organik alami. Ketika diolah di kolam pengolahan limbah, mikroorganisme akan menguraikan bahan organik tersebut. Proses alami inilah yang menghasilkan gas metana.
Apabila gas tersebut dilepaskan langsung ke atmosfer, kontribusinya terhadap pemanasan global menjadi cukup besar. Dan merupakan salah satu sumber emisi gas rumah kaca.
Lalu, apa itu methane capture?
Secara sederhana, methane capture adalah teknologi yang dirancang untuk menangkap gas metana sebelum terlepas ke atmosfer.
Alih-alih dibiarkan menjadi emisi, gas metana dikumpulkan melalui sistem kolam pengolahan limbah yang ditutup menggunakan lapisan khusus, seperti High Density Polyethylene (HDPE) atau Polyvinyl Chloride (PVC). Penutup ini berfungsi menahan biogas yang terbentuk selama proses penguraian sisa pengolahan.
Gas yang berhasil ditangkap kemudian dialirkan menuju fasilitas pemurnian dan dimanfaatkan sebagai biogas. Biogas tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler, pembangkit listrik, atau sumber energi lainnya yang mendukung operasional pabrik.
Dengan kata lain, teknologi ini mengubah sesuatu yang semula menjadi sumber emisi menjadi energi yang memiliki nilai manfaat.
Methan Capture Menjadi Salah Satu Inovasi Keberlanjutan
Bagi Astra Agro, methane capture menjadi salah satu investasi pada teknologi, juga investasi bagi masa depan. Teknologi ini menjadi salah satu pilar penting dalam agenda dekarbonisasi perusahaan sekaligus wujud nyata komitmen menjalankan industri kelapa sawit yang lebih efisien, rendah emisi, dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut terus diwujudkan melalui pembangunan fasilitas methane capture di sejumlah unit operasional. Salah satu langkah terbaru diwujudkan melalui peresmian fasilitas methane capture di anak usaha Astra Agro PT Kimia Tirta Utama (PT KTU), di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Kehadiran fasilitas ini menjadi methane capture ke tiga yang telah beroperasi di lingkungan entitas Astra Agro di Riau, sekaligus memperkuat perjalanan perusahaan menuju target pengurangan emisi jangka panjang.
Di balik instalasi pipa, kolam pengolahan, dan tangki biogas yang berdiri di area pabrik, tersimpan sebuah filosofi sederhana: hasil dan sisa pengolahan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah proses. Dengan inovasi yang tepat, ia justru dapat menjadi awal lahirnya energi baru yang memberi manfaat lebih luas.
Melalui fasilitas ini, limbah cair hasil pengolahan kelapa sawit tidak lagi dipandang sebagai residu produksi semata. Gas metana yang dihasilkan dari proses penguraian limbah ditangkap, diolah menjadi biogas, kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler untuk mendukung kebutuhan energi pabrik. Selain mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan, pemanfaatan biogas juga mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar biomassa sehingga operasional menjadi lebih efisien.
Dengan kapasitas pabrik sebesar 50 ton tandan buah segar (TBS) per jam, fasilitas methane capture PT KTU telah memproduksi biogas sebesar 1,17 juta Nm³ hingga Mei 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1,11 juta Nm³ telah dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler, menggantikan penggunaan cangkang sawit. Data ini menunjukkan kontribusi nyata pemanfaatan energi terbarukan dalam operasional perusahaan.
Pemanfaatan biogas tersebut berhasil menghemat penggunaan cangkang hingga 2.564 ton atau setara 3,5 persen dari total TBS yang diolah hingga Mei 2026. Selain itu, fasilitas ini telah berkontribusi terhadap pengurangan emisi sebesar 7.444 ton CO ekuivalen hingga Mei 2026 dan diproyeksikan mencapai 28.649 ton CO ekuivalen pada akhir tahun 2026.
Fasilitas methane capture PT KTU diresmikan langsung oleh Chief of Corporate Affairs PT Astra International Tbk, Boy Kelana Soebroto, didampingi Executive in Charge sekaligus Chief of Group Legal Astra, Boy Gemino Kalauserang, Chief Technical Officer Astra Agro, Widayanto, Chief Agronomy & Sustainability Officer Astra Agro, Bandung Sahari, Division Head ESR Astra International, Diah Suran Febrianti, serta disaksikan oleh jajaran manajemen dan staff Astra Agro.
Menurut Boy Kelana Soebroto, transformasi tersebut merupakan bagian dari komitmen Astra Agro sebagai anak usaha Astra International dalam menjalankan Astra Agro Sustainability Aspirations 2030, yang selaras dengan Astra 2030 Sustainability Aspirations. Di dalamnya, pengurangan emisi gas rumah kaca menjadi salah satu fokus utama untuk mendukung target pembangunan rendah karbon nasional.
Perjalanan menuju keberlanjutan ini sesungguhnya telah menunjukkan hasil yang nyata. Sepanjang tahun 2025, Astra Agro berhasil menurunkan emisi sebesar 439 ribu ton CO₂ ekuivalen, atau sekitar 35,65 persen dibandingkan baseline tahun 2019. Pencapaian tersebut merupakan hasil dari berbagai inisiatif yang saling terintegrasi, mulai dari pemanfaatan limbah sebagai pupuk dan energi, efisiensi penggunaan bahan bakar, peningkatan efisiensi operasional, hingga pembangunan fasilitas methane capture.
Ke depan, Astra Agro menargetkan pembangunan 10 fasilitas methane capture di berbagai unit operasional secara bertahap. Seluruh fasilitas tersebut diproyeksikan mampu memberikan kontribusi pengurangan emisi hingga 357,66 ribu ton CO₂ ekuivalen pada tahun 2030, sekaligus memperkuat peran perusahaan dalam mendukung target Net Zero Emission Indonesia.












