Kelapa sawit tidak hanya sekadar komoditas bagi banyak masyarakat — ia telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang perlahan mengubah kesejahteraan keluarga. Dari kebun-kebun yang dulu dikelola secara sederhana, kini kelapa sawit hadir sebagai sumber penghidupan yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan.
Di Kabupaten Pasangkayu, tanaman ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat. Setiap hari, para petani memanen tandan buah segar (TBS) dengan harapan sederhana: hasil yang cukup untuk menghidupi keluarga. Harapan itu kini semakin nyata.
“Rata-rata pendapatan petani di kelompok koperasi kami, satu orang bisa mencapai Rp 35 juta setiap bulan,” ujar Idris Lambang, Ketua Kelompok Tani Bina Bersama Lestari.
Bagi pria berusia 53 tahun tersebut, menjadi petani sawit adalah tentang perubahan hidup. Ia merasakan sendiri bagaimana penghasilan dari kebun mampu memberikan kepastian ekonomi bagi keluarganya—sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Sebelum menjadi ketua kelompok tani sawit, Idris bercerita sempat menjadi petani kakao, namun tidak bertahan lama karena tanaman kakao yang lebih rentan terhadap hama dan penyakit, biaya perawatan tinggi, serta harga jual yang tidak stabil.
“Banyaknya kesulitan saat menjadi petani coklat, hingga akhirnya saya memutuskan beralih ke petani sawit. Sawit menawarkan pasar yang jelas dan keuntungan jangka panjang yang lebih pasti,” ungkapnya.
Bersama anggota kelompoknya, Idris kini dapat memanen dan menjual hasil kebun hampir setiap hari. Dalam sebulan, produksi mereka bisa mencapai 1.000 hingga 1.100 ton TBS. Hasil panen tersebut kemudian dijual ke PT Letawa anak usaha Astra Agro, perusahaan perkebunan yang telah menjadi mitra mereka selama hampir dua dekade atau 19 tahun lamanya.
Kemitraan ini membawa perubahan besar. Dulu, petani sering menghadapi kesulitan menjual hasil panen. Kualitas buah yang belum optimal serta keterbatasan pengetahuan tentang budidaya menjadi tantangan utama. Kini, melalui koperasi dan pendampingan perusahaan, akses pasar menjadi lebih terbuka dan terarah.
“Banyak sekali manfaat yang kami rasakan. Kami rutin mendapatkan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kualitas panen,” kata Idris.

Pendampingan itu tidak hanya sebatas teori. Para petani mendapatkan bimbingan langsung di lapangan—mulai dari cara pemupukan yang tepat, teknik panen yang efisien, hingga pengelolaan kebun yang berkelanjutan. Bahkan, pelatihan juga dilakukan secara daring untuk memastikan pengetahuan terus berkembang.
Langkah ini semakin diperkuat melalui kegiatan kolaborasi yang baru-baru ini digelar antara Astra Agro dan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC). Kegiatan yang menghadirkan pelatihan bagi petani sawit mandiri Pasangkayu, Sulawesi Barat. Program ini berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, juga membangun pemahaman petani tentang Good Agricultural Practices (GAP) yakni pentingnya efisiensi dan praktik keberlanjutan dalam pengelolaan kebun.
Dalam pelatihan yang diselenggarakan di Palu pada 28–29 April 2026 tersebut, para petani didorong untuk menerapkan praktik budidaya yang lebih baik, produktif, dan ramah lingkungan.
Idris menjadi salah satu yang merasakan langsung dampak dari program tersebut. Ia mengaku kini semakin update memahami bagaimana merawat tanaman sawit sejak awal penanaman hingga perawatan rutin, sehingga hasil panen dapat lebih maksimal.
“Pelatihan seperti ini yang menjadi salah satu pendukung kami untuk menjadi petani sawit yang semakin berkualitas,” katanya.
Sementara itu, melalui keterangan tertulis Direktur Sustainability and Smallholder CPOPC Antonius Yudi, menegaskan bahwa petani memilili peran strategis dalam rantai pasok global, sehingga penguatan kapasitas petani kecil merupakan kunci dalam menjaga keberlanjutan industri sawit ke depan.
“Harapannya kegiatan ini mampu meningkatkan keterampilan teknis sekaligus memperkuat pemahaman peserta terhadap pentingnya efisiensi dan keberlanjutan dalam pengelolaan kebun,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari Kepala Dinas Perkebunan dan Pertanian Kabupaten Pasangkayu, Abidin yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Menurut Abidin, pengembangan kapasitas petani melalui penerapan praktik budidaya yang baik menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing petani lokal.
Kabupaten Pasangkayu mencatatkan capaian membanggakan dengan meraih penghargaan sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sulawesi Barat dalam ajang Musrenbang RKPD 2027 yang digelar pada April 2026. Pencapaian ini mencerminkan laju pembangunan daerah yang konsisten dan menunjukkan kinerja ekonomi yang semakin kuat.

Di balik capaian tersebut, sektor perkebunan menjadi tulang punggung utama, khususnya komoditas kelapa sawit beserta produk turunannya. Aktivitas produksi crude palm oil (CPO) dan rantai nilainya telah berperan besar dalam menggerakkan roda ekonomi daerah, sekaligus menjadikan Pasangkayu sebagai salah satu kontributor penting bagi pertumbuhan sektor pertanian di Sulawesi Barat.
Dengan berbagai program dan inisiatif yang dijalankan Astra Agro Grup dalam mendukung kapasitas dan kualitas petani sawit, upaya ini menjadi langkah penting untuk mendorong produktivitas sekaligus memperkuat daya saing perkebunan di Sulawesi Barat ke depan.










