Setiap desa memiliki cerita dan kebutuhan yang berbeda. Bagi sebagian desa, pendidikan menjadi langkah penting untuk membuka peluang masa depan. Di tempat lain, akses kesehatan menjadi kebutuhan utama, sementara desa lainnya tengah mengembangkan potensi ekonomi agar masyarakat dapat tumbuh dan semakin mandiri.
Di Morowali Utara, Sulawesi Tengah, cerita-cerita itu hadir dari tujuh desa di sekitar wilayah operasional PT Agro Nusa Abadi (ANA), anak usaha Astra Agro. Ada Pebooa, Towara Pantai, Towara, Molino, Bungintimbe, Tompira, dan Bunta. Ketujuh desa ini memiliki karakter dan kebutuhan masing-masing. Sehingga PT ANA memilih untuk tidak datang dengan satu pendekatan yang sama, melainkan terlebih dahulu mendengarkan masyarakat melalui musyawarah desa dan dialog bersama tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, hingga kelompok masyarakat.
Dari proses mendengarkan itulah, berbagai cerita kemudian tumbuh.
Di Bunta, Tompira, Bungintimbe, Towara, Molino, hingga Pebooa, cerita dimulai dari ruang-ruang kelas. Ada guru-guru yang setiap hari mendampingi anak-anak belajar. Untuk mendukung peran mereka, PT ANA memberikan insentif kepada guru honorer di sekolah-sekolah binaan. Pada kuartal pertama 2026, dukungan tersebut diberikan kepada guru di 13 sekolah. Bagi PT ANA, dukungan ini bukan sekadar bentuk apresiasi, tetapi bagian dari upaya menjaga kualitas pendidikan di desa-desa sekitar operasional.
Di tempat lain, cerita berlanjut dari Posyandu. Di sana, perhatian sederhana seperti menimbang bayi, mengukur tinggi badan, atau mencatat perkembangan kesehatan menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan keluarga. PT ANA mendukung kegiatan Posyandu dengan berbagai sarana dan perlengkapan yang dibutuhkan kader dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pada Q1 2026, dukungan tersebut menjangkau 12 Posyandu dan 60 kader, dengan cakupan 1.371 bayi dan balita, 308 ibu hamil, serta 362 lansia.
Lalu ada cerita tentang mereka yang sedang membangun usaha.
Di Desa Molino, misalnya, ada Sinergi Magasi, sebuah UMKM yang sebelumnya mengembangkan produk makanan berbahan dasar sagu. Kini, kelompok tersebut mulai mencoba peluang baru dengan mengembangkan produk sabun cuci piring dan merencanakan perluasan pemasaran ke desa-desa sekitar. PT ANA hadir melalui pendampingan untuk membantu usaha tersebut berkembang. Sinergi Magasi bahkan dinominasikan untuk mengikuti program UMKM Bisa Astra International guna memperkuat kapasitas dan keberlanjutan usahanya.
Sementara di Pebooa, cerita datang dari kelompok peternak ayam petelur. Potensi yang sudah dimiliki masyarakat kemudian diperkuat melalui pendampingan dalam pengelolaan pakan dan produksi. Harapannya, produktivitas dan kualitas hasil ternak semakin baik sehingga manfaatnya dapat kembali dirasakan oleh masyarakat melalui peningkatan kesejahteraan.
Dari ruang kelas, Posyandu, UMKM, hingga kelompok peternak, bentuk kontribusinya memang berbeda. Namun, semuanya berangkat dari satu hal yang sama: mendengarkan apa yang dibutuhkan masyarakat dan mendampingi apa yang sudah menjadi potensi mereka.
Sebab, bagi Astra Agro tumbuh bersama masyarakat bukan tentang memberikan hal yang sama kepada semua desa. Melainkan tentang memahami setiap cerita, menemukan kebutuhan dan potensinya, lalu hadir untuk membantu cerita itu terus berkembang.











