Tahukah kamu? Setiap 9 Agustus diperingati sebagai Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia, sebuah momentum untuk mengenal lebih dekat keberadaan, budaya, pengetahuan, serta kehidupan masyarakat adat di berbagai belahan dunia. Peringatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keberagaman masyarakat adat merupakan bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya yang perlu dihargai dan dijaga.
Di Indonesia, salah satu komunitas masyarakat adat yang masih mempertahankan kehidupan dan tradisinya adalah Orang Rimba, yang juga kerap disebut Suku Anak Dalam (SAD). Dalam menjalani kehidupannya, masyarakat Orang Rimba terus menghadapi berbagai tantangan sekaligus berupaya membangun kehidupan yang lebih mandiri. Hal ini menjadi bagian dari perhatian Astra Agro untuk membangun hubungan yang harmonis dan hidup berdampingan dengan masyarakat adat di sekitar wilayah operasional.
Salah satunya melalui pendampingan masyarakat Orang Rimba di Jambi yang dilakukan secara berkelanjutan, dengan mengedepankan kebutuhan dan aspirasi masyarakat melalui berbagai program di bidang pangan, pendidikan, kesehatan, penguatan sumber penghidupan, hingga akses terhadap identitas hukum.
Memperkuat Ketahanan Pangan dan Akses Kebutuhan Dasar
Salah satu perhatian utama adalah memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap kebutuhan pangan. Pada triwulan pertama 2026, Astra Agro menyalurkan 3,58 ton beras dan 331 paket bahan pangan kepada masyarakat Orang Rimba.
Dukungan tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah desa, pemimpin ketemenggungan, dan mitra strategis. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Namun, ketahanan pangan tidak hanya dibangun melalui bantuan kebutuhan pokok. Astra Agro juga mendorong penguatan kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber pangan dan ekonomi secara lebih mandiri melalui Agriculture Learning Center (ALC) di Suluh Rimbo Sikar dan Suluh Rimbo Air Panas.
Pada Januari hingga Maret 2026, kegiatan budidaya dilakukan melalui pola tanam dan panen secara bertahap dengan komoditas seperti kacang panjang, kacang tanah, dan cabai. Hingga akhir Maret, kelompok Suluh Rimbo Sikar berhasil memanen 150 kilogram kacang panjang, sementara kelompok Suluh Rimbo Air Panas masih berada dalam tahap pemeliharaan tanaman. Pendampingan teknis juga diberikan mulai dari perawatan tanaman, pengelolaan lahan, pengendalian hama dan gulma, hingga penanganan pascapanen.
Membuka Jalan melalui Pendidikan
Pendidikan menjadi salah satu pintu penting untuk membuka lebih banyak pilihan masa depan bagi generasi muda Orang Rimba.
Pada awal 2026, program pendidikan untuk Orang Rimba diperluas dari jenjang pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi. Tantangan masih dihadapi, terutama tingginya angka putus sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah karena sebagian anak mengikuti orang tua mereka bekerja di dalam hutan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Astra Agro mendukung pendidikan nonformal melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Melalui program Paket A, B, dan C, anak-anak tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan dan mengikuti ujian meskipun berada di dalam hutan, hingga memperoleh ijazah pendidikan formal.
Pada triwulan pertama 2026, kegiatan pendidikan juga diarahkan pada penguatan karakter melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Kegiatan tersebut mendorong tumbuhnya karakter, kemandirian, dan semangat gotong royong pada peserta didik.
Lebih jauh, dampak pendidikan terlihat dari perjalanan sejumlah anak muda Orang Rimba yang berhasil melanjutkan pendidikan dan memasuki dunia profesional. Salah satunya adalah Fauzan, putra komunitas Orang Rimba yang merupakan alumni Polbangtan Bogor.
Pada triwulan pertama 2026, Fauzan menjalankan tanggung jawab sebagai Plantation Assistant di salah satu unit perkebunan Astra Agro di Kalimantan. Dalam perannya, ia bertanggung jawab atas produktivitas dan koordinasi di sejumlah blok perkebunan serta mengawasi 26 pekerja panen dan tiga supervisor panen. Perjalanan Fauzan menjadi salah satu gambaran bahwa pendidikan dan kesempatan dapat membuka ruang bagi talenta muda masyarakat adat untuk berkembang dan mengambil peran di industri strategis.
Mendekatkan Layanan Kesehatan
Akses terhadap layanan kesehatan juga menjadi bagian dari pendampingan masyarakat Orang Rimba. Layanan dilakukan melalui Posyandu, pemberian makanan tambahan (PMT), serta Puskesmas Keliling (Pusling).
Pada triwulan pertama 2026, PMT diberikan kepada 11 ibu hamil, 10 bayi, 104 balita, 205 anak usia sekolah, 60 remaja, 164 orang dewasa, dan 28 lansia. Layanan kesehatan juga diselaraskan dengan sistem Integrasi Layanan Primer (ILP), sehingga pemantauan kesehatan dapat mencakup berbagai kelompok usia.
Melalui Pusling yang dilaksanakan bersama Puskesmas Pematang Kabau, masyarakat di wilayah yang memiliki keterbatasan akses dapat memperoleh pemeriksaan kesehatan, pengobatan dasar, konsultasi medis, serta edukasi kesehatan.
Pemantauan kesehatan juga dilakukan secara rutin dengan mencatat berat dan tinggi badan, status imunisasi, kondisi ibu hamil, serta catatan kesehatan lainnya. Data tersebut menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dan pendamping masyarakat untuk menentukan tindak lanjut yang lebih tepat, termasuk dalam merespons kasus ISPA yang ditemukan pada kelompok Orang Rimba tertentu.
Menguatkan Kemandirian melalui Kolaborasi
Pendampingan masyarakat Orang Rimba tidak berhenti pada program jangka pendek. Astra Agro juga terlibat dalam Forum Kemitraan Pembangunan Sosial Orang Rimba (FKPS-SAD), sebuah ruang kolaborasi multipihak untuk membahas penguatan kehidupan dan sumber penghidupan masyarakat Orang Rimba.
Memasuki 2026, forum tersebut mulai bergerak ke tahap yang lebih teknis. Hal ini dilakukan dengan menganalisis berbagai persoalan, menyempurnakan kebutuhan prioritas, serta menyusun rekomendasi kolaborasi sebagai tindak lanjut kesepakatan untuk membangun Grand Design pemulihan sumber penghidupan Orang Rimba.
Yang menjadi bagian penting dalam proses tersebut adalah keterlibatan masyarakat Orang Rimba sendiri. Kebutuhan dan aspirasi mereka tidak hanya didengarkan, tetapi juga menjadi dasar dalam merancang program kolaboratif ke depan.
Pendekatan serupa diterapkan dalam pendampingan Kelompok Meriau. Pada triwulan pertama 2026, Astra Agro memberikan pendampingan terhadap lahan produktif seluas 3 hektare yang dikelola bersama oleh 16 anggota Kelompok Tani Beharop Maju di wilayah Temenggung Nggrip.
Selain memantau pertumbuhan tanaman jengkol dan tanaman pendukung lainnya, pendampingan juga diarahkan untuk memperkuat koordinasi kelompok dalam mengelola lahan bersama. Sebanyak 16 keluarga menunjukkan pembagian peran yang semakin terstruktur dalam pemeliharaan lahan, pembersihan, dan pengawasan tanaman.
Tumbuh Bersama, Melangkah Bersama
Bagi Astra Agro, perjalanan masyarakat Orang Rimba menunjukkan bahwa perubahan membutuhkan proses yang berkelanjutan. Ketika akses terhadap pangan, pendidikan, kesehatan, identitas hukum, dan sumber penghidupan diperkuat secara bersama-sama, semakin terbuka ruang bagi masyarakat untuk tumbuh lebih mandiri.
Melalui kolaborasi dengan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan, Astra Agro senantiasa berupaya membangun pendampingan yang relevan dengan kebutuhan di lapangan. Sebab, keberlanjutan bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga tentang memastikan masyarakat di dalamnya memiliki kesempatan untuk hidup, berkembang, dan menatap masa depan dengan lebih percaya diri.











