Di balik setiap sesi inspiratif, selalu ada sosok yang membawa pengalaman, nilai, dan semangat untuk dibagikan. Hal itulah yang dihadirkan Astra Agro dalam rangkaian Celebes Education Festival (CEF) 2026 dengan menghadirkan narasumber yang tidak hanya berkompeten di bidangnya, tetapi juga memiliki dedikasi nyata dalam mendorong perubahan sosial.
Salah satunya adalah Imelda Riris Damayanti, Co-Founder Never Okay Project yang selama ini aktif mengampanyekan pencegahan kekerasan seksual melalui edukasi, pendampingan, serta penguatan kapasitas berbagai institusi pendidikan dan dunia kerja. Dedikasinya dalam membangun ruang yang aman dan inklusif mengantarkannya meraih Apresiasi SATU Indonesia Awards 2025 kategori Pendidikan.
SATU Indonesia Awards merupakan program apresiasi yang diinisiasi PT Astra International Tbk sejak 2010 untuk memberikan penghargaan kepada generasi muda Indonesia yang menghadirkan perubahan positif di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, dan teknologi. SATU Indonesia Awards menjadi wadah bagi para anak muda inspiratif untuk memperluas dampak sosial yang mereka bangun bersama masyarakat. Kiprah Imelda melalui Never Okay Project dinilai mampu menghadirkan perubahan nyata dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman melalui edukasi mengenai pencegahan kekerasan seksual dan pentingnya budaya speak up.
Melalui Celebes Education Festival, pengalaman Imelda menjadi bekal berharga bagi para guru dan tenaga pendidik. Ia tidak hanya membagikan teori, tetapi juga praktik lapangan mengenai bagaimana membangun kepercayaan anak untuk berani bercerita, mengenalkan konsep boundaries dan consent, serta menciptakan sekolah yang mampu menjadi ruang aman bagi seluruh peserta didik. Perspektif tersebut sejalan dengan komitmen Astra Agro dalam membangun lingkungan belajar yang menghormati keberagaman dan menjunjung tinggi perlindungan terhadap setiap individu.
Menurutnya, guru sering kali menjadi orang pertama yang dipercaya anak ketika mengalami persoalan. Karena itu, kemampuan mendengarkan dengan empati, memahami tanda-tanda kekerasan, serta memberikan respons yang tepat menjadi bagian penting dari perlindungan anak.
“Kasus kekerasan seksual ibarat fenomena gunung es. Yang terlihat hanya sebagian kecil, sementara masih banyak yang tidak terungkap karena korban takut untuk bercerita,” ungkapnya.

Semangat serupa juga dibawa oleh Trivena Nalsalita, Ketua Bidang Administrasi dan Keuangan Perempuan Astra. Dalam workshop Women Empowerment, Trivena mengajak para peserta melihat bahwa perempuan memiliki peran strategis sebagai penggerak perubahan, baik di lingkungan keluarga, komunitas, maupun dunia kerja. Baginya, pemberdayaan perempuan bukan sekadar meningkatkan keterampilan, tetapi juga membangun rasa percaya diri, keberanian mengambil keputusan, dan kesempatan yang setara untuk berkembang.
Perempuan Astra sendiri merupakan komunitas perempuan di lingkungan Grup Astra yang berfokus pada pengembangan kapasitas, kepemimpinan, dan pemberdayaan perempuan, baik di dalam perusahaan maupun di tengah masyarakat. Melalui berbagai program edukasi, pelatihan, pendampingan UMKM, penguatan literasi keuangan, hingga kegiatan sosial. Perempuan Astra mendorong semakin banyak perempuan untuk menjadi individu yang mandiri, produktif, dan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Berinteraksi dengan anggota Periska atau persatuan istri karyawan, kader Posyandu, Tim Penggerak PKK, paguyuban, hingga pelaku UMKM binaan perusahaan, Trivena mengajak para perempuan melihat potensi yang selama ini mungkin belum mereka sadari.
Menurutnya, perempuan memiliki kemampuan untuk menjadi penggerak perubahan, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Kesempatan untuk belajar, memimpin, dan berkembang seharusnya dapat diakses oleh setiap perempuan tanpa memandang latar belakangnya.
Dalam paparannya, Trivena menjelaskan bahwa nilai-nilai Diversity & Inclusion bukan hanya berbicara mengenai keberagaman, tetapi juga bagaimana setiap individu diberikan ruang yang sama untuk tumbuh dan memberikan kontribusi terbaiknya. Ketika perempuan memperoleh kesempatan tersebut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh keluarga, komunitas, bahkan pembangunan desa.
Melalui Perempuan Astra, ia juga membagikan berbagai praktik pemberdayaan yang telah dilakukan di berbagai daerah sebagai bukti bahwa kolaborasi dan kepedulian mampu melahirkan perubahan yang berkelanjutan.
Kolaborasi Astra Agro dengan Imelda Riris Damayanti dan Perempuan Astra mencerminkan bahwa implementasi Diversity & Inclusion (D&I) tidak berhenti pada kebijakan perusahaan, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata yang menyentuh masyarakat. Dengan menghadirkan narasumber yang memiliki pengalaman langsung di bidang perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan, Astra Agro berharap nilai-nilai inklusivitas, kesetaraan, dan kepedulian dapat terus tumbuh, tidak hanya di lingkungan kerja, tetapi juga di sekolah, keluarga, dan komunitas tempat perusahaan bertumbuh bersama masyarakat.










