Desi dan Kurnia dua nama yang mempesona. Betapa tidak, mereka adalah gadis-gadis asal komunitas Suku Anak Dalam (SAD) yang merantau dari kampung halamannya untuk berdedikasi dalam menempuh pendidikan tinggi.
Sudah hampir tiga tahun Desi masuk kuliah. Bertahun-tahun lebih pula ia mulai disibukkan dengan urusan perkuliahan. Desi tercatat di akademik sebagai mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (PPKN) di Universitas Jambi. Universitas ini berada di Muaro Bulian, Kabupaten Muaro Jambi, sekitar 15 kilometer dari jantung kota Jambi. Katanya ia memilih jurusan ini karena kelak ingin maju bersama komunitasnya dengan mendidik anak-anak SAD belajar baca tulis.
“Saya bangga lahir sebagai anak Rimba, tapi hidup kami susah, karena belum semua dari kami sadar akan belajar, di usia saya banyak yang lebih memilih menikah daripada sekolah,” ungkap Desi.
Desi adalah anak sulung dari Munawir dan Indra Wati. Ia berpetualang ke Jambi demi melanjutkan pendidikan. Bagi Desi menjadi anak pertama dengan tiga orang adik yang masih kecil, merupakan salah satu motivasinya untuk sekolah tinggi, supaya bisa mengangkat derajat orang tua dan membantu menghidupi adik-adiknya.
Memang sudah banyak anak dari komunitas SAD dari desa asal tinggal Desi memutuskan untuk mengenyam pendidikan, namun dapat dihitung jari yang konsisten mampu dan mau melanjutkan hingga jenjang perguruan tinggi sepertinya.
“Saya tidak masalah tinggal jauh dari keluarga karena ingin membanggakan orang tua. Saya ingin terus lanjut sekolah supaya bisa meraih cita-cita, dan jadi contoh buat adik-adik,” kata Desi.
Desi menyebutkan bahwa ia ingin menjadi lebih baik dari orangtuanya, sebab dulu Bapak dan Ibu Desi hanya bersekolah sampai jenjang sekolah dasar.
SAD atau Orang Rimba adalah salah satu indigeneous people yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatra Selatan. Pada umumnya mereka hidup secara nomaden dan mencari penghidupan dengan berburu dan mengumpulkan buah-buahan dari hutan. Namun sudah banyak di antara mereka yang saat ini memutuskan meninggalkan hutan dan menetap di suatu tempat serta berbaur dan hidup dengan warga sekitar.

Kisah Kurnia tak kalah mengagumkan. Ia adalah gadis yang usianya baru 20 tahun, kini langkahnya pasti dan penuh percaya diri. Pasalnya cita-citanya menjadi seorang tenaga kesehatan sejak di bangku sekolah dasar tak lama lagi akan terwujud. Tak ada yang menyangka salah satunya lagi anak rimba akhirnya dapat melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi negeri, di kota Jambi.
Kurnia dan keluarga besarnya komunitas SAD, merupakan warga asal Desa Bukit Suban, sebuah Desa di Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Hidup jauh dari kemajuan pendidikan di wilayah perkotaan, tidak membuat anak kedua dari empat bersaudara itu tumbuh menjadi pribadi yang putus asa.
Kepercayaan dirinya ia tanamkan sejak Kurnia mulai beradaptasi dan aktif dalam pergaulan. Meski berasal dari sebuah desa yang cukup jauh dari Kota Jambi, saat memasuki dunia perkuliahan di kota, ia dapat beradaptasi dengan berbagai macam orang dari berbagai latar belakang.
Namun dibalik itu, rasa pesimis tak jarang Kurnia rasakan, saat masih ada beberapa dari komunitas bahkan kawan-kawan sesama SAD tak percaya dengan cita-citanya. Membuat Kurnia sedih dan berniat menenggelamkan mimpinya.
“Ketika saya bilang saya lulus di fakultas kesehatan, saya malah nangis. Bahkan ada yang datang bukan untuk mendukung tapi membuat saya ragu. Waktu itu pokoknya benar-benar tidak tahu harus bagaimana salah satunya karena biaya di Kota,” ungkap Kurnia sambil mengenang.
Singkat cerita ambisi Desi dan Kurnia bersambut. Mereka berhasil sampai di bangku kuliah dengan mendapat seabrek bantuan. “Semua biaya sekolah sampe kuliah, bahkan uang saku dan kebutuhan sehari-hari selama di rantau itu PT SAL yang bayari,” Kata Kurnia dengan logatnya yang masih khas.
“Gak cuma masalah sekolah dan kuliah, bapak ibu juga dibantu sama PT SAL, dikasih banyak bantuan biar bisa menghidupi adik-adik di rumah,” ujar Desi menimpali pernyataan Kurnia.
Bagi Desi dan Kurnia, PT Sari Aditya Loka (SAL) memberikan dukungan penuh baik bantuan material, non-material, termasuk dukungan moral kepada mereka hingga bisa lolos di perguruan tinggi bergengsi di Jambi.
PT SAL merupakan salah satu entitas usaha Astra Agro yang berlokasi di Jambi. Bagi perusahaan Harmoni dengan masyarakat sekitar menjadi fondasi dalam setiap langkah operasional perusahaan. Sehingga membantu Kurnia, Desi serta komunitas SAD lainnya tidak lagi menjadi kewajiban namun menjadi nilai dan budaya perusahaan.
Desi dan Kurnia, dua mahasiswa yang berdedikasi dalam menempuh pendidikan tinggi, mereka telah berhasil menyelesaikan semester enam mereka pada tahun ini. Saat ini, mereka tengah fokus menghadapi ujian praktik dan penilaian semester sebagai persiapan menuju term akademik berikutnya.
Bahkan Desi berhasil meraih IPK yang mengesankan sebesar 3,81 pada semester ketiganya. Ia kini terus mengasah kemampuannya untuk menyajikan materi kurikulum PPKN melalui media yang inovatif, seperti video pembelajaran.
Sementara itu, Kurnia, yang menempuh pendidikan di Politeknik Kesehatan Jambi, telah menyelesaikan Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk syarat kelulusan. Kesempatan ini akan membantunya mengaplikasikan pengetahuan akademik yang telah diperoleh ke dalam situasi nyata di tengah masyarakat.
Melalui komitmen untuk hidup berdampingan secara berkelanjutan, selain menjalankan aktivitas bisnis, perusahaan senantiasa berupaya memberdayakan komunitas lokal, termasuk masyarakat adat. Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut terlihat pada upaya pendampingan dan pemberdayaan SAD, yang dilakukan melalui berbagai program sosial, diantaranya di bidang pendidikan.
Pada Komunitas SAD, Komitmen Astra Agro dalam bidang pendidikan diantaranya melalui dukungan terhadap Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), perusahaan membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi anak-anak SAD yang selama ini menghadapi keterbatasan dalam memperoleh layanan pendidikan formal.
Sepanjang 2025, sebanyak 412 anak SAD mengikuti kegiatan belajar di 13 PKBM dengan dukungan 19 tenaga pengajar. Selain itu, perusahaan juga menyalurkan beasiswa kepada 412 anak yang berasal dari tujuh rombongan dan 14 sub-rombong, mencakup berbagai jenjang pendidikan mulai dari PAUD,SD,SMP, hingga SMA/K dan perguruan tinggi.
Secara lebih luas, kontribusi Astra Agro dalam pendidikan terangkum dalam pilar Astra Cerdas yang menjangkau ratusan sekolah binaan di berbagai wilayah operasional. Sepanjang tahun yang sama, Astra Agro menjangkau 194 sekolah binaan yang tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Upaya ini melibatkan 2.811 guru dan memberikan manfaat langsung kepada 37.716 siswa.
Melalui berbagai inisiatif seperti festival pendidikan, dukungan kegiatan dan lomba akademik, hingga penyediaan Beasiswa Pendidikan Astra, perusahaan berupaya menciptakan ekosistem belajar yang lebih inklusif dan berdaya saing.
Program beasiswa menjadi salah satu langkah konkret yang memberikan dampak luas. Selama tahun 2025, sebanyak 1.981 siswa dari sekolah binaan menerima dukungan Beasiswa Pendidikan.
Di sisi lain, Astra Agro juga menaruh perhatian besar pada peningkatan kualitas tenaga pendidik. Perusahaan memberikan tambahan insentif rutin setiap bulan kepada 581 guru honorer sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka. Selain itu, pelatihan peningkatan kompetensi juga diberikan kepada 226 guru guna memperkuat kapasitas pengajaran dan adaptasi terhadap metode pembelajaran yang lebih inovatif.
Sejalan dengan semangat Hari Pendidikan Nasional, langkah-langkah ini menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Astra Agro hadir sebagai mitra strategis dalam pembangunan pendidikan bagi masyarakat sekitar perusahaan. Inisiatif yang dijalankan menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk mencetak generasi yang lebih unggul, dan memiliki kesempatan pendidikan yang sama. Tumbuhnya Desi dan Kurnia menjadi bagian dari perjalanan Astra Agro dalam menumbuhkan harapan, membuka peluang, dan menghadirkan masa depan yang lebih baik melalui pendidikan.(*)










