Komunitas Suku Anak Dalam merupakan masyarakat adat yang hidup di wilayah pedalaman Jambi dengan pola kehidupan yang masih kuat dipengaruhi tradisi dan kearifan lokal. Di tengah berbagai keterbatasan akses terhadap layanan dasar, komunitas ini terus beradaptasi dengan perubahan tanpa meninggalkan identitas budayanya.
Namun, perubahan dalam kehidupan komunitas adat Suku Anak Dalam (SAD) tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan pendekatan yang tepat dan berkelanjutan. Astra Agro melalui anak usahanya, sebagai salah satu industri perkebunan yang hidup berdampingan dengan komunitas masyarakat adat di Jambi berkomitmen kuat untuk tumbuh bersama masyarakat adat melalui penghormatan tradisi, pelestarian budaya, dan pembangunan kesejahteraan.
Komitmen tersebut kemudian Astra Agro jalankan melalui berbagai program dukungan yang dirancang untuk menjawab sejumlah kebutuhan dasar sekaligus mendorong kemandirian komunitas secara bertahap.
Langkah yang dilakukan salah satunya dengan berkolaborasi dari studi mendalam yang dilakukan oleh Daemeter Consulting pada tahun 2017, Astra Agro mengimplementasikan berbagai inisiatif yang mencakup aspek di aspek pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, perumahan, hingga pemberdayaan ekonomi. Program berfokus pada bantuan untuk mendorong kemandirian masyarakat dalam jangka panjang.
Upaya lainnya yang dilakukan adalah dengan memperkuat ketahanan pangan, sejak 2018 Astra Agro secara konsisten menyediakan kebutuhan pokok seperti sembako dan beras bagi 331 kepala keluarga. Di saat yang sama, program Suluh Rimbo dikembangkan sebagai pusat pembelajaran pertanian yang dimulai dari skala kecil dan terus bertumbuh hingga pada tahun 2024 resmi menjadi lembaga bernama Rimba Tani. Inisiatif ini menjadi fondasi penting dalam memperkenalkan praktik bertani kepada komunitas yang sebelumnya sangat bergantung pada hasil hutan.
Pada pilar pendidikan, Astra Agro melalui PT Sari Aditya Loka (SAL) mengelola PKBM Muara Cendekia yang menaungi berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga program kesetaraan Paket A, B, dan C. Kolaborasi dengan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) semakin memperluas jangkauan layanan pendidikan bagi masyarakat. Hingga saat ini, sebanyak 421 anak pada SAD telah mendapatkan akses pendidikan, bahkan beberapa di antaranya berhasil melanjutkan ke perguruan tinggi seperti Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor, Universitas Jambi, dan Universitas Kesehatan Jambi. Tercatat pula satu individu yang berhasil menempuh pendidikan hingga akademi kepolisian.
Untuk menjangkau kelompok yang masih berpindah, program Sekolah Bejelon dihadirkan dengan sistem pengantaran guru ke lokasi belajar, serta didukung Rumah Singgah Madu Rimbo sebagai tempat tinggal sementara bagi anak-anak.
Sementara itu, layanan kesehatan juga diperkuat melalui penyediaan enam posyandu khusus SAD, yaitu Astera, Raflesia, Mawar, Punti Kayu II, Nurul Islam, dan Tunas Bangsa. Fasilitas ini dilengkapi dengan layanan ambulans yang memudahkan proses rujukan ke rumah sakit, sehingga masyarakat dapat memperoleh penanganan medis yang lebih cepat dan memadai.
Untuk pilar ekonomi, berbagai program pemberdayaan terus dikembangkan untuk membuka peluang penghasilan serta memandirikan masyarakat. Mereka didorong mengelola peternakan ayam, budidaya ikan lele, hingga pengembangan komoditas khas seperti jernang—getah merah bernilai ekonomi tinggi—melalui kerja sama dengan Taman Nasional Bukit Dua Belas. Beberapa kelompok bahkan menunjukkan perkembangan signifikan dengan mampu mengelola usaha secara mandiri.
Upaya lain yang tidak kalah penting adalah fasilitasi akses administrasi kependudukan. Sejak 2022, program pembuatan KTP bagi SAD terus digencarkan, dan hingga akhir 2025 sebanyak 898 individu telah memiliki identitas resmi. Kepemilikan dokumen ini membuka akses terhadap berbagai program bantuan sosial seperti BST, BLT, dan PKH, serta layanan kesehatan dan pendidikan melalui KIS dan KIP.
Transformasi juga terlihat pada Kelompok Meriau, yang sejak 2019 mulai meninggalkan pola hidup nomaden dan menetap di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas. Mereka kini telah memiliki rumah permanen dan mengembangkan mata pencaharian berbasis pertanian. Pada tahun 2024, langkah ini diperkuat melalui pembentukan koperasi Berkah Rimba Bukit Duabelas, hasil kolaborasi dengan pihak taman nasional, yang bertujuan meningkatkan posisi tawar masyarakat dalam memasarkan produk hasil hutan non-kayu.
Secara keseluruhan, rangkaian program ini menunjukkan bahwa pendekatan dengan mengedepankan dialog sesuai kebutuhan, terencana serta berkelanjutan mampu mendorong perubahan nyata. Selain meningkatkan kualitas hidup, juga membuka jalan bagi masyarakat SAD untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Secara keseluruhan, rangkaian program pemberdayaan telah menjangkau 1.252 individu melalui penguatan pembelajaran keluarga, menyediakan akses pendidikan bagi 412 anak, serta memperluas layanan kesehatan dan administrasi kependudukan bagi ratusan keluarga. Hingga saat ini, sebanyak 898 masyarakat telah memiliki KTP, yang membuka akses terhadap berbagai program perlindungan sosial, di antaranya Program Keluarga Harapan (PKH) bagi 84 kepala keluarga, Kartu Indonesia Pintar (KIP) bagi 40 keluarga, Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi 236 keluarga, Kartu Indonesia Sehat (KIS) bagi 331 keluarga, serta Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) bagi 182 keluarga.
Penguatan kemandirian juga diperluas melalui dukungan kepada 37 keluarga Kelompok Meriau di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, serta peningkatan kapasitas masyarakat melalui Agricultural Learning Center (ALC) di Suluh Rimbo Sikar dan Suluh Rimbo Air Panas. Inisiatif ini menjadi bagian penting dalam mendorong pengelolaan sumber daya secara produktif dan berkelanjutan.
Capaian ini mencerminkan bahwa pendekatan yang mengedepankan dialog, kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat, serta perencanaan berkelanjutan mampu menghasilkan dampak yang terukur.
Lebih dari sekadar peningkatan kesejahteraan, keseluruhan program ini turut membuka ruang bagi masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) untuk beradaptasi secara bertahap terhadap dinamika sosial dan ekonomi. Proses tersebut berlangsung dengan tetap menjaga identitas serta kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun, sehingga transformasi yang terjadi tetap selaras dengan nilai-nilai budaya yang dimiliki.











