Di berbagai sudut kota hingga pelosok desa, sampah masih menjadi persoalan yang akrab ditemui. Kantong plastik sekali pakai, sisa makanan rumah tangga, hingga limbah kemasan kerap menumpuk tanpa pengelolaan yang memadai.
Pada tingkat nasional, isu sampah bukan lagi sekadar persoalan kebersihan, melainkan juga menyangkut kesehatan masyarakat, pencemaran lingkungan, hingga perubahan iklim. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dikutip dari Indonesiaasri.com, aktivitas rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar dengan porsi mencapai 60,44%, disusul aktivitas pasar sebesar 11,63%.
Melihat tantangan tersebut, kolaborasi menjadi kunci. Upaya pengelolaan sampah tidak dapat berjalan optimal jika hanya mengandalkan satu pihak. Dibutuhkan keterlibatan aktif berbagai elemen, termasuk sektor industri yang memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat di wilayah operasionalnya. Perusahaan tidak lagi sekadar berperan sebagai pelaku usaha, tetapi juga menjadi mitra pembangunan yang turut membangun kesadaran serta menghadirkan solusi lingkungan secara berkelanjutan.
Kesadaran inilah yang mendorong PT Astra Agro Lestari Tbk (Astra Agro) bersama seluruh entitas usahanya mengubah tantangan menjadi peluang. Dari wilayah operasional yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, berbagai inisiatif lahir untuk mengubah sampah yang sebelumnya dinilai sebagai persoalan menjadi sumber manfaat bagi masyarakat.
Langkah tersebut salah satunya diwujudkan melalui implementasi Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Kebun Sawit (Mulok PLKS) di sekolah-sekolah binaan. Astra Agro bersama entitas usahanya menghadirkan sub-program pengolahan sampah berbasis sistem 5R (reduce, reuse, recycle, replace, replant). Melalui program ini, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mempraktikkan pengelolaan sampah secara langsung. Beragam karya kreatif pun lahir, mulai dari kerajinan berbahan cangkang sawit dan sampah plastik, nutrisi hidroponik dari limbah daun kelapa sawit, eco-enzim, eco-brick dari sampah kertas dan botol plastik, hingga briket sebagai bahan alternatif arang.

Diantaranya perubahan nyata terlihat di Desa Pandu Sanjaya, desa binaan PT Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi (GSIP) dan PT Agro Menara Rachmat (AMR). Melalui kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat, bank sampah desa diperkuat dengan bantuan alat kompos dan fasilitas fermentasi. Pengolahan kompos dan pakan maggot menjadi bernilai ekonomi, membuka peluang kemandirian masyarakat.
Semangat pengelolaan sampah juga tumbuh di wilayah operasional PT Borneo Indah Marjaya (BIM) dan PT Palma Plantasindo (PPS). Melalui Bank Sampah Unit (BSU), masyarakat diajak memilah dan mengelola sampah rumah tangga. Botol plastik, kertas bekas, dan limbah domestik lainnya diolah menjadi produk bernilai, seperti lilin dan kerajinan tangan. Dari sini sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sumber peluang ekonomi.
Kepedulian terhadap lingkungan juga dikenalkan sejak dini kepada generasi muda. Melalui sekolah binaan PT Subur Agro Makmur (SAM), siswa diajak memanfaatkan botol plastik bekas sebagai media tanam hidroponik. Kegiatan sederhana ini tidak hanya mengajarkan keterampilan bercocok tanam, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Upaya serupa juga dijalankan oleh PT Sumber Kharisma Persada (SKP), PT Cipta Narada Lestari (CNL), dan PT Karyanusa Ekadaya (KED). Ketiga entitas tersebut berhasil mendampingi sekolah binaan meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025. Mengusung tema “Hentikan Polusi Plastik”, pembinaan dilakukan melalui penanaman kebiasaan memilah sampah, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta pembangunan budaya sekolah yang peduli lingkungan. Kolaborasi antara perusahaan, pemerintah daerah, dan sekolah menjadikan edukasi lingkungan berkembang menjadi gerakan nyata yang dijalankan siswa setiap hari.

Komitmen Astra Agro dalam pengelolaan sampah juga hadir langsung di tengah masyarakat adat. Dikutip dari laporan tahunan Astra Agro pada 2024, perusahaan berkolaborasi dengan Kementerian Agama dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Palu untuk memberikan pelatihan pembuatan ecobrick kepada masyarakat Suku Bunggu di Dusun Saluraya, Sulawesi Barat. Melalui pelatihan ini, sampah plastik yang sebelumnya tidak terkelola diolah menjadi produk bermanfaat. Antusiasme warga terlihat dari semangat mereka mengikuti setiap sesi, mencerminkan tumbuhnya kesadaran sekaligus harapan baru untuk menjaga lingkungan secara lebih bijak.
Semangat serupa juga tumbuh di tengah masyarakat Suku Dayak Tomun. Melalui kampanye lingkungan, Astra Agro membagikan 600 tas belanja ramah lingkungan sebagai pengganti kantong plastik sekali pakai serta menyediakan 70 tempat sampah untuk mendukung kebersihan desa. Program ini menjadi bagian dari upaya perubahan perilaku masyarakat menuju kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.
Secara lebih luas, perusahaan juga terus menggalakkan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di desa-desa binaan. Sepanjang 2024, lebih dari 1.000 tas belanja ramah lingkungan telah dibagikan sebagai alternatif pengganti kantong plastik. Di saat yang sama, Astra Agro senantiasa memperkuat edukasi mengenai pengelolaan sampah, pemanfaatan pekarangan rumah, serta pengurangan penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Upaya ini turut didukung dengan peningkatan akses transportasi di desa-desa sekitar wilayah operasional, sehingga tidak hanya meningkatkan kepedulian lingkungan, tetapi juga mempercepat perputaran ekonomi masyarakat.










