Di sebuah sudut desa di Kecamatan Rio Pakava, Kabupaten Donggala, para perempuan mulai menata harapan baru. Perubahan itu tidak datang secara tiba-tiba atau melalui langkah besar, melainkan tumbuh perlahan di balik rutinitas sehari-hari—dari keberanian memulai hal kecil hingga keyakinan untuk menciptakan masa depan yang berbeda.
Kelompok Perempuan Maju Jaya menjadi ruang tumbuh bagi harapan tersebut. Di sanalah para perempuan berkumpul, belajar, dan saling menguatkan. Mereka berasal dari latar belakang sederhana, dengan pengalaman yang terbatas dalam mengelola usaha. Namun semangat untuk berubah membuat mereka bertahan dan terus melangkah.
Di tengah kelompok ini, sosok Nengah Wantri menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Sebagai ketua kelompok, Nengah—begitu ia akrab disapa—menjadi jembatan harapan bagi para anggotanya. Ia adalah perempuan desa yang pernah merasakan keterbatasan, mulai dari akses terhadap modal, pengetahuan, hingga peluang usaha. Namun dari keterbatasan itulah ia menemukan dorongan untuk bergerak lebih jauh.
Bagi Nengah, bergabung dalam kelompok bukan sekadar aktivitas tambahan. Ini adalah jalan untuk membuktikan bahwa perempuan desa mampu mandiri. Ia terus mendorong anggotanya agar berani mencoba hal baru, meski harus dimulai dari langkah kecil.
Perjalanan mereka mulai menemukan arah ketika kolaborasi lintas pihak hadir. PT Mamuang, bagian dari Astra Agro, memberikan dukungan nyata untuk membantu pemberdayaan ekonomi di Desa tersebut, khususnya bagi kelompok Perempuan Maju Jaya. Lagi-lagi bukan secara tiba-tiba, PT Mamuang senantiasa hadir bagi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya, mengajak berkolaborasi, memberikan berbagai manfaat nyata, serta membuka ruang dialog aktif dengan tujuan agar segala bantuan dan program yang hadir memang sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.
Kali ini berdasarkan berbagai pertimbangan dan pendekatan, PT Mamuang hadir melalui bantuan bibit ternak babi kepada Kelompok Perempuan Maju Jaya, bantuan ini menjadi titik awal tumbuhnya usaha kolektif yang dikelola bersama oleh para perempuan desa. Bantuan ini semakin kuat dengan kolaborasi bersama NGO Relawan untuk Orang dan Alam (ROA) bersama Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulawesi Tengah.
Selain bantuan, para perempuan juga mendapatkan pendampingan dan pelatihan berkelanjutan. Nengah Wantri dan anggota kelompok belajar berbagai keterampilan baru, mulai dari teknik penggemukan ternak, manajemen pakan, hingga pengendalian penyakit. Pendampingan dilakukan secara langsung melalui kunjungan rutin, serta diperluas melalui workshop yang membuka wawasan mereka tentang pentingnya akses terhadap sumber daya.
Melalui proses ini, perempuan tani didorong untuk memahami hak dan peluang yang mereka miliki, termasuk dalam memanfaatkan berbagai program pemberdayaan yang sebelumnya belum sepenuhnya terjangkau.
Bagi Nengah Wantri, perubahan ini terasa sangat personal. Ia tidak hanya melihat peningkatan dari sisi ekonomi, tetapi juga perubahan cara pandang. Perempuan yang sebelumnya ragu kini mulai percaya diri—berani berdiskusi, mengambil keputusan, hingga merencanakan masa depan usaha bersama.
“Bantuan ini adalah harapan baru bagi kami untuk mengembangkan usaha produktif. Semoga program ini menjadi titik balik perubahan ekonomi masyarakat kami ke arah yang lebih baik,” ujarnya.
Ia pun menyadari bahwa kemandirian tidak datang secara instan. Kemandirian tumbuh dari proses panjang—belajar, mencoba, dan saling mendukung. Dan hari ini, proses itu tengah berlangsung di desanya.

Apresiasi juga disampaikan Kepala Desa Rio Mukti, Idris Lambang. Ia sangat bersyukur berharap bantuan yang diberikan dapat dikelola dengan baik oleh kelompok sehingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Saya berpesan kepada seluruh anggota Kelompok Maju Jaya agar menjaga amanah ini dengan penuh tanggung jawab. Kelola ternak dengan baik, ikuti pelatihan yang diberikan, dan jadikan program ini sebagai modal kebersamaan untuk membangun kesejahteraan desa kita,” pungkasnya.
Dari kandang-kandang sederhana yang mereka kelola, harapan kini semakin tumbuh. Setiap langkah kecil yang diambil Kelompok Perempuan Maju Jaya menjadi bukti bahwa ketika akses dibuka dan kepercayaan diberikan, perempuan desa mampu menjadi penggerak perubahan.
Di Desa Rio Mukti, pemberdayaan hidup dalam sosok-sosok seperti Nengah Wantri—yang memilih untuk tidak berhenti pada keterbatasan, melainkan menjadikannya sebagai titik awal untuk melangkah.










