Tahukah Anda bahwa perubahan produksi kelapa sawit tidak hanya dipengaruhi oleh pemupukan atau perawatan kebun, tetapi juga oleh fenomena iklim global? Dua istilah yang cukup sering terdengar, yaitu El Nino dan La Nina, memiliki peran besar dalam menentukan kondisi cuaca di Indonesia. El Nino biasanya ditandai dengan berkurangnya curah hujan yang memicu kemarau lebih panjang, sementara La Nina menyebabkan peningkatan curah hujan dan musim basah yang berlangsung lebih lama. Perubahan pola hujan ini berdampak langsung pada ketersediaan air, yang menjadi faktor penting bagi pertumbuhan dan produktivitas tanaman kelapa sawit.
Dalam Workshop “Ngobrol Bareng GAPKI”, Dr. Nuzul Hijri Darlan menjelaskan bahwa bagi industri kelapa sawit, El Nino menjadi salah satu tantangan utama karena menyebabkan cekaman kekeringan pada tanaman. Kekurangan air dapat mengganggu proses fisiologis, terutama pembentukan bunga betina yang menentukan produksi tandan buah segar. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat kejadian berlangsung, tetapi juga dapat memengaruhi produksi hingga satu sampai dua tahun berikutnya. Penurunan produksi akibat cekaman kekeringan pun bervariasi, tergantung kondisi tanaman, umur tanaman, serta praktik pengelolaan kebun yang diterapkan.
Akademisi dari Institut Pertanian Bogor ini juga memaparkan kemarau panjang yang menyertai fenomena El Nino berpotensi membawa sejumlah ancaman bagi operasional perkebunan. Defisit air yang berlangsung lama membuat tanaman mengalami stres, menurunkan jumlah tandan dan berat buah, serta meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit. Tanaman yang mengalami kekeringan cenderung lebih rentan terhadap gangguan organisme pengganggu tanaman. Selain itu, kemarau panjang juga meningkatkan potensi kebakaran lahan, mengurangi ketersediaan air untuk kegiatan operasional, serta berdampak pada penurunan pasokan bahan baku ke pabrik kelapa sawit. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi kinerja produksi secara keseluruhan.
Menghadapi potensi kemarau pada tahun 2026, langkah antisipatif menjadi hal penting bagi industri kelapa sawit, termasuk Astra Agro. Perusahaan menargetkan zero fire sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan dengan memastikan tidak terjadi kebakaran di seluruh area operasional dan rantai pasok. Upaya pencegahan dilakukan melalui pemantauan area secara berkala, penerapan teknologi deteksi dini, serta peningkatan kapasitas tim melalui pelatihan bagi karyawan dan masyarakat sekitar. Selain itu, kolaborasi dengan berbagai pihak juga terus diperkuat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan respons terhadap potensi kebakaran.
Astra Agro secara konsisten pun menerapkan Zero Burn Policy di seluruh konsesi yang melarang penggunaan api dalam kegiatan operasional, termasuk dalam proses persiapan penanaman kembali. Kebijakan ini bertujuan untuk menghilangkan potensi risiko kebakaran sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca. Sebagai penguatan, Perseroan juga mengimplementasikan Fire Prevention System yang mengacu pada regulasi pemerintah dengan empat prinsip utama, yaitu kepatuhan terhadap prosedur operasi standar, penyediaan fasilitas pemadam kebakaran yang memadai, pengelolaan sistem pasokan air yang efektif, serta pelibatan aktif masyarakat dalam upaya pencegahan kebakaran.
Kesiapan tersebut diperkuat melalui pelatihan Tim Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat (TKTD) yang dilakukan secara rutin. Dalam pelaksanaannya, Astra Agro bekerja sama dengan berbagai pihak eksternal seperti Dinas Perkebunan, Dinas Kehutanan, Kepolisian, Manggala Agni, dan BPBD. Kolaborasi ini bertujuan memvalidasi kesiapan sarana prasarana, infrastruktur, serta personel dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran, khususnya saat menghadapi musim kemarau.
Selain penguatan kapasitas tim, Astra Agro juga melakukan pengecekan berkala terhadap sarana dan prasarana pendukung. Pemeriksaan dilakukan terhadap fasilitas pemadam kebakaran, sumber air, serta infrastruktur lainnya untuk memastikan seluruh peralatan berfungsi optimal dan siap digunakan dalam kondisi darurat.
Pemantauan potensi kebakaran juga dilakukan secara berlapis. Astra Agro memonitor hotspot di dalam dan sekitar konsesi menggunakan teknologi MODIS dan VIIRS dari BRIN, yang dipadukan dengan patroli lapangan, menara pantau, serta penggunaan drone untuk menjangkau area yang sulit diakses. Selain itu, Perseroan memantau curah hujan melalui Automatic Weather System (AWS) dan data BMKG sebagai sistem peringatan dini terhadap peningkatan risiko kebakaran.
Upaya pencegahan tidak hanya difokuskan di dalam area operasional, tetapi juga diperluas hingga wilayah sekitar. Astra Agro melakukan patroli bersama pemerintah daerah, dinas terkait, serta TNI/Polri untuk mengantisipasi potensi kebakaran dari luar konsesi yang dapat berdampak pada area perusahaan.

Sebagai bagian dari pendekatan kolaboratif, Astra Agro juga mengembangkan program pencegahan kebakaran berbasis masyarakat melalui pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA). Hingga 2024, Perseroan telah membina 122 kelompok MPA. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat, mencegah pembukaan lahan dengan api, serta memperkuat kemampuan deteksi dan pemadaman dini kebakaran di wilayah sekitar konsesi.
Melalui berbagai langkah tersebut, Astra Agro berupaya mengantisipasi dampak El Nino terhadap produktivitas perkebunan, juga memastikan komitmen keberlanjutan operasional tetap terjaga. Pendekatan yang terintegrasi, mulai dari pencegahan, pemantauan, hingga kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, menjadi kunci dalam menghadapi tantangan iklim yang semakin dinamis.
Source: Pemaparan Dr. Nuzul Hijri Darlan & Sustainability Report Astra Agro 2025










