Stunting atau kondisi gagal tumbuh pada bayi dan balita masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan sumber daya manusia. Penyebab utamanya adalah kurangnya asupan gizi sejak dalam kandungan hingga masa pertumbuhan, sanitasi buruk, hingga kurangnya edukasi gizi.
Kompleksitas persoalan stunting mendorong pemerintah untuk mengambil langkah percepatan penanganan. Dilansir dari laman resmi Kementerian Sekretariat Negara dan Kementerian Kesehatan, Pemerintah Indonesia melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP2S) menginisiasi program nasional yang melibatkan lintas kementerian, pemerintah daerah, pelaku swasta, hingga partisipasi aktif masyarakat. Kolaborasi ini menjadi kunci dalam menurunkan angka gagal tumbuh secara berkelanjutan.
Dalam upaya mendukung program pemerintah tersebut, entitas PT Astra Agro Lestari Tbk (Astra Agro) di Jambi bersama dengan pemerintah daerah Provinsi Jambi menempatkan percepatan penurunan stunting sebagai salah satu agenda prioritas pembangunan, dengan mendorong intervensi yang terencana, terukur, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Gubernur Jambi Al Haris menegaskan bahwa stunting bukan semata persoalan kesehatan, melainkan menyangkut kualitas masa depan daerah. Karena itu, ia mengimbau seluruh sektor untuk turut berperan aktif mendukung rencana aksi penurunan stunting.
“Semua pihak harus berjalan beriringan dan terintegrasi untuk menyukseskan program ini, dan peran orang tua asuh sangat dibutuhkan di setiap daerah,” ujarnya saat membuka Penilaian Kinerja Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten/Kota se-Provinsi Jambi beberapa waktu lalu.
Di tingkat tapak, komitmen penurunan stunting kemudian diwujudkan melalui kolaborasi lintas sektor. Astra Agro perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Kabupaten Merangin dan Sarolangun, turut mendukung agenda percepatan penurunan stunting melalui berbagai program berbasis pemberdayaan masyarakat.
“Astra Agro menjadi salah satu sektor yang senantiasa hadir lewat berbagai komitmen keberlanjutannya, utamanya melalui program orang tua asuh,” tambah Al Haris.
Sepanjang 2025, Astra Agro di Jambi secara konsisten menjalankan berbagai program kesehatan berbasis komunitas. Bagi perusahaan, upaya pencegahan stunting tidak cukup dengan bantuan sesaat, melainkan membutuhkan pendampingan jangka panjang. Melalui tanggung jawab sosial pilar kesehatan, perusahaan telah membina 35 posyandu di wilayah operasional serta enam posyandu khusus untuk komunitas Suku Anak Dalam (SAD).
Seiring berjalannya waktu, peran posyandu tidak hanya sebagai layanan dasar kesehatan, tetapi juga menjadi ruang penguatan komunitas. Pada akhir 2025, Astra Agro senantiasa meningkatkan fasilitas dan layanan kesehatan bagi masyarakat SAD agar posyandu mampu menjawab kebutuhan yang lebih luas.
Menurut Slamet Riyadi, Assistant Corporate Social Responsibility Astra Agro di Jambi, peningkatan layanan tersebut dirancang untuk mencakup seluruh siklus kehidupan.“Mulai dari ibu hamil, ibu pasca melahirkan dan menyusui, bayi, balita, anak prasekolah, anak usia sekolah, remaja, dewasa, hingga lansia,” jelasnya.
Selain itu, perusahaan juga memberi perhatian pada peningkatan kualitas tenaga kesehatan melalui pelatihan dan pendampingan bagi dokter, perawat, serta kader posyandu binaan.
Di posyandu-posyandu inilah cerita perubahan perlahan terbangun, kader yang semakin terlatih, anak-anak yang rutin mendapat makanan tambahan bergizi, hingga fasilitas kesehatan yang kian memadai. Bersama puskesmas setempat, perusahaan juga mengoperasikan layanan puskesmas keliling yang menjangkau 241 kepala keluarga, serta menyediakan ambulans khusus bagi masyarakat SAD yang selama ini sulit mengakses layanan kesehatan.
Kehadiran yang konsisten dan pendekatan yang berkelanjutan tersebut tidak luput dari perhatian pemerintah daerah. Pada Oktober 2025, Pemerintah Kabupaten Merangin memberikan apresiasi atas peran aktif Astra Agro dalam percepatan penurunan stunting. Pengakuan itu kemudian diperkuat dengan penganugerahan Piagam Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) dari BKKBN Provinsi Jambi pada Desember 2025.
Upaya perusahaan tidak berhenti pada pilar kesehatan. Anak usaha Astra Agro di Jambi juga turut mendukung program pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan sebagai fondasi penting pencegahan stunting. Sepanjang 2025, perusahaan menyalurkan 34,65 ton beras serta 2.979 paket sembako dan makanan kepada lebih dari 331 rumah tangga dan komunitas SAD di Kabupaten Merangin dan Sarolangun.
Bagi perusahaan, makna dari ketahanan pangan tidak berhenti hanya memberi, namun juga mendampingi dan memandirikan, untuk itu Astra Agro juga bersama komunitas dan kelompok tani SAD menginisiasi penanaman 600 bibit pohon jengkol, budidayakan serai wangi, hingga pengembangan perikanan air tawar.
Pendidikan kemudian menjadi bab penting berikutnya dalam rangkaian upaya tersebut. Hingga 2025, perusahaan telah membina 13 sekolah di Merangin dan Sarolangun, mendampingi 412 siswa bersama 16 tenaga pendidik. Bagi anak-anak SAD yang harus meninggalkan hutan demi mengenyam pendidikan formal, perusahaan menyediakan Wisma Madu Rimbo, rumah singgah anak-anak SAD dari jenjang sekolah dasar hingga menengah atas.
Slamet menegaskan bahwa peran dunia usaha tak terpisah dari denyut kehidupan daerah. Ia berharap kolaborasi yang terbangun selama ini terus berlanjut, agar pembangunan tidak hanya tumbuh, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat.











